Merenung Makan 2 kali sehari
Thursday, October 13th, 2005Tangerang, Warta Kota
Keluarga Idup (44), warga Kampung Sewan Bedeng RT 01/02, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, terpaksa harus makan dua hari sekali. Untuk mengirit minyak tanah, keluarga itu minum air mentah. Kesengsaraan keluarga dengan empat anak itu semakin terasa setelah harga BBM naik. Penghasilan Idup sebagai kuli angkut pasir kian terpuruk, begitu pula istrinya Selih (32) yang bekerja sebagai buruh cuci.Sebelum harga BBM naik, keluarga itu masih bisa makan sehari sekali dan Idup masih bisa ngopi dua kali. “Sekarang sudah tak bisa lagi. Dengan uang Rp 3.000 sudah tidak bisa membeli apa-apa lagi,” ujar Idup meratapi nasibnya. Ia pun menuding pemerintah buta dan tuli. Menurutnya, para penggede tak peduli terhadap kehidupan orang-orang seperti dirinya yang jumlahnya jutaan. Idup dan keluarganya tinggal di Kampung Sewan Bedeng RT 01/02, kampung kumuh di bantaran Kali Cisadane, tak jauh dari pintu irigasi Pintu Air X. Kampung itu dipadati rumah gubuk yang ditempati para kuli angkut pasir dan buruh cuci. Seperti kebanyakan rumah gubuk di kampung itu,
rumah Idup juga tak berjendela. Udara segar hanya bisa masuk dari sela-sela anyaman dinding gedek. Gubuk berukuran 3 m x 3 m yang disewa Rp 50.000 per bulan itu pun hanya punya satu ruangan yang difungsikan sebagai ruang tamu, kamar tidur, dan dapur sekaligus. Pasangan Idup dan Selih memiliki empat orang anak. Anak pertama dan kedua, Gustiawan (15) dan Yuliana (13), terpaksa berhenti sekolah di kelas IV SD. Keduanya kini dititipkan kepada neneknya, lantaran Idup dan Selih tak sanggup memberi makan. Hanya dua anak yang tinggal bersama mereka, yakni anak ketiga Julendra (11) yang duduk di kelas V SD dan anak keempat Faisal (3). “Julendra juga terancam berhenti sekolah, karena sejak bulan Juni sampai Oktober dia belum bayar SPP. Bagaimana kami bisa bayar uang sekolah yang sebulan Rp 5.000, kalau makan aja susahnya bukan main,” kata Selih. Ketika Warta Kota menyambangi rumah kecil berdinding gedek dan beratap anyaman daun kelapa itu, kemarin, Idup bertelanjang dada duduk murung menatap anak laki-lakinya Faisal asyik melahap nasi putih tanpa lauk. Sesekali tangan Idup menuangkan air putih ke piring plastik bocah itu agar nasinya tidak menggumpal. Di belakang kedua orang itu, Selih duduk bersandar lemari kayu usang sambil mengurut kedua kakinya. Mata perempuan itu terus menatap ayunan tangan si bocah menyuapkan nasi ke mulutnya. Belum habis nasi di piring Faisal, tiba-tiba kakaknya Julendra menyeruak masuk. Tanpa bicara apa-apa, si kakak merebut piring plastik di depan adiknya. Piring itu dibawanya menjauh ke sudut ruangan. Setelah sejenak melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa ragu Julendra menyuap nasi yang tinggal setengah itu ke mulutnya. Melihat piringnya direbut, Faisal tak bereaksi apa-apa. Dia bangkit dan menjangkau gelas di belakangnya. Ia lalu mengisi gelas dengan air yang diambil dari dalam ember plastik warna hitam. Usai menenggak habis isi gelas, bocah itu berbaring di atas kasur tipis yang dibentangkan di lantai semen. Bau tak sedap merebak dari setumpuk kain gombal yang dijadikan alas kepala si bocah. “Iya begini deh. Saya dan bapaknya anak-anak mengalah nggak makan hari ini. Habis nasinya nggak cukup buat berempat. Biar aja anak-anak duluan yang makan. Kalau saya dan bapaknya masih kuat nggak makan sampai besok,” ujar Selih disusul anggukan lemas suaminya Idup.