Benar, kalo ada kata hati harus diikuti. Biasanya aku selalu ikutin kata hati, tapi akhir-akhir ini aku rada2 mengabaikan kata hati. Sabtu lalu aku bangun jam 5 pagi, shalat, bikin vla buat jualanku (jualan pudding yang baru dimulai 3 hari yang lalu), ke pasar jam setengah 6 n nyampe lagi dirumah jam setengah 7. Buat pudding n selesai beberes ‘kamar’, aku relaks sebentar (kakak udah ngingetin siap2 kerja) tapi aku bilang aku mandi 5 menit jadi mo relaks sebentar. Beberapa menit setelahnya, aku mandi (5 menit) n siap2, eh nggak nyangka bener2 nggak nyangka ternyata aku rada lama dinyari baju (kok bajuku kemana?? Banyak yg belom selesai dicuci (maklum masih dicuciin). Akhirnya aku pergi sekalian kasih pudding ke warung tetangga sebelah. Aku bener2 lupa kalo ada pelatihan lrc dicyber. And I get there too late (bener2 ndak enak ati ama bapak2 n ibu2 n aku ngucapin maap ke mereka). Nggak enak juga ama yang ngadain acara karena mereka jadi pindah ke markas mereka. I must do something (in my mind). N telp ke lrc (minta maaf), hari ini ketemu heru (trainer) juga minta maaf, ama temen2 di cyber juga. N rencananya ama ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah sengaja datang pagi-pagi untuk belajar (Maafkan saya karena telah mengurangi semangat Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu). Memang kata-kata kakak seharusnya segera kupatuhi, maafkan aku kata hati
Ada pula kejadian hari senin ini, karena aku kerepotan membuat pudding (membagi waktu di pagi hari), kuikuti saran temanku untuk membuat pudding di malam hari dan vlanya di pagi hari. Pagi ini suamiku mengikuti kursus toefl preparation tuk pertama kalinya. So dia ndak sempet nyobain pudingku. Aku juga sedang buru-buru tuk mengikuti seminar forum digital grafika (seru bgt tadi), jadi rasanya tidak sempat tuk mencoba pudding (padahal sempat terngaung-ngaung dalam telinga hati ini untuk mencoba pudingnya). Aku serahkan ke warung tetangga n langsung cabut ke tukang bubur depan rumah (kepala pusing jadi harus sarapan), lagi-lagi terngaung-ngaung ‘coba pudingnya 1’ berkali-kali. Kuputuskan untuk mencobanya setelah makan bubur. Bisa ditebak kan? Ternyata perutku berasa sudah tidak bisa diisi lagi (akhirnya ndak makan juga tuch pudding). Sampai kira2 jam 2 kurang (setelah balik dari seminar n selesai makan siang). Aku ambil pudding di tasku, nggak nyangka udah berair (kupikir karma tergoyang-goyang didalam tasku to’). Pas dirasain ….. rasanya kecut (gawat … gawat). Langsung aku minta ijin ke temen2 cyber tuk kerumah sebentar (tepatnya ke warung sebelah … ambil semua pudding sebelum ada yg makan).
Sesampai diwarung tetangga, ada ibu yang kebetulan mengaku membeli puddingku untuk anaknya (dan anaknya bilang “ma, kok pudingnya beda si”), dia bilang biasanya puddingku enak tapi kok hari ini rada kecut. Langsung aku minta maaf dan berjanji akan mengembalikkan uang mereka. Segera kukerumah sebentar (pikiranku menyarankan agar memberikan brownies kukus yang baru kubuat). Kali ini kembali kudengarkan kata hati. Kucari lagi pembeli yang telah memakannya (3 puding sudah terjual … alhamdulillah hanya sedikit). Ibu tadi pun memaafkan kesalahanku. Pembeli 2 mangkok pudding sisanya ternyata adalah Pak Yanto. Ia tidak merasa ada yang aneh dengan pudding itu, tapi tetap kuputuskan tuk bertanggung-jawab. Namun ia tidak mau menerima uang yang kukembalikan. Syukur alhamdulillah … pembelinya masih tetangga sendiri karna inisiatif cepat dari sang pemilik warung yang tidak menjual puddingku setelah mendapat keluhan dari sang ibu. Aku pun tidak meminta uang penjualan kepada bapak pemilik warung . Aku belajar banyak hari ini … mulai dari mendengarkan kata hati, hati2 dengan makanan karna mudah rusak, menjaga kualitas makanan, menjaga hubungan dengan customer, dan menjaga hubungan dengan relasi (dalam hal ini Bapak pemilik warung). Alhamdulillah, syukurku pada-MU Ya ALLAH.
Nb : Btw kak lusi, kakak menurutku lebih cocok menjadi pemimpin daripada kak Li** karena justru kata2 kakak yang sedikit membuatku ndak enak hati sekali kalau melakukan kesalahan dan aku ingat kok kesalahanku.