Archive for January, 2007

Poligami???

Monday, January 22nd, 2007

Kata yang mungkin sudah tak asing di telinga kita ya? Sepertinya masih dalam hitungan pekan berita mengenainya mencuat di media massa. Aku dengar sich sampe ada sinetronnya segala lho!. Sebenernya bagaimana si poligami yg ’benar’ dalam ajaran islam. Humm … kemarin, ibu menunjukkan sebuah artikel yg sangat menarik ttg poligami ini, menambah satu perspektifku.

Sebuah artikel dari majalah Noor (kata ibu, majalah muslimah yg santer dengan kehidupan sehari-hari). Artikel ini kiriman seorang bapak (pembaca) yg sudah ’bosan’ dikejar pertanyaan seputar poligami dari para ibu-ibu ditempatnya berdakwah.

Ceritanya mengenai seorang suami, cukup kaya raya yang bila berzakat saja mengakibatkan teras rumahnya dipenuhi barisan dhuafa. Sang suami, sebut saja Pak B, berusia kepala lima ini memiliki tetangga yang suaminya baru saja meninggal dunia. Janda cantik berusia kepala tiga tersebut memiliki tiga orang anak & ibu yang sakit, sedang ayahnya telah tiada. Adapun Salman, seorang tetangga yang termasuk ’guru’ dalam berbagi pengetahuan ilmu agama yang usianya pun tak terpaut jauh dari putra sulung Pak B. Salman mengatakan Pak B sudah ’cukup’ untuk masuk kategori layak berpoligami. Pak B gundah, ia bingung rasanya ada perasaan aneh dalam dirinya walaupun ia rasa itu adalah ide gila. Pak B pun mengumpulkan berbagai rujukan, baik dari Al-Qur’an, hadits, dan berbagai buku.
Suatu hari Salman datang untuk meminta ’jawaban’. Pak B telah merasa ’siap’ memberikan jawaban. ”Dalam islam, poligami bukanlah suatu kewajiban ataupun sunnah, tapi ia merupakan jalan bagi orang yang tak mampu hanya memiliki satu istri, tapi juga banyak syarat yang harus dilakukan suami. ”, ”Kau dan semua tetangga disini hanya melihat keadaanku sekarang, sesungguhnya baru 10 tahun ini kami hidup seperti ini. Istriku telah menemaniku selama 25 tahun. Dulu aku hanyalah seorang buruh yang seringkali tidak bisa membawa pulang apa-apa bagi istri dan anakku. ’Rumah’ kami hanya lima langkah saja menuju ke belakang. Tapi istriku tidak pernah mengeluh. Rasanya aku senang pulang kerja mendapatkan kedamaian istriku dan tawa, tangis anakku. Kesenangan sekarang ini adalah milik kami berdua, aku tidak bisa begitu saja merenggutnya. Sekarang, giliranku berkorban, jika ini disebut pengorbanan untuk menahan diri dari ketidakmampuanku”

Rejeki alias Rizki

Monday, January 22nd, 2007

Sungguh indah islam mengatakan rejeki itu, tak kan habis rejekinya sebelum usianya. Manusia memiliki rejekinya masing2, rejeki sudah disediakan tinggal dijemput. Bagaimana kita menjemputnya?  disamping kata2 work smart not work hard, saya seringkali menemui berbagai kejadian yg membuat saya memikirkan filosofi2 mencari rejeki yg lebih sempitnya ‘mencari uang’. Kejadian pas naik angkot m11, sepiiiii bgt, si abang ni ngetem lamaaaa bgt, nggak ada juga yg naik. Alhamdulillah akhirnya dia menyerah (astagfirullah kan kasian abangnya ya, untungnya si tuk penumpangnya), nggak jauh dari tempat ngetemnya itu, ada keluarga ‘besar’ n may be tetangga2nya yg pas mereka naik, itu kursi 4-6 terisi semua :D. Subhannallah, kadang kita ngerasa rejeki ada di ‘tempat ini’ yg lama kita tunggu nggak dateng2 tapi sebenernya rejeki itu nggak jauh dari kita dan bisa kita ambil kalo kita mau ‘bergerak’ sedikit lagi (Jadi ingat kebanyakan kisah sukses yg berani terus mencoba biarpun gagal ratusan kali kayak kolonel Sanders yg nawarin resep KFC nya ke banyak restoran, baru restoran ke 1002 (kalo nggak salah) nerima tawarannya n berkembang pesat seperti sekarang. Juga Thomas Alfa Edison yg berhasil nemuin formula lampu di percobaannya yg ke-5000. Subhannallah :D (aku aja pernah nyoba2 pindah kerjaan n ngerasain prosesnya 2 kali ditolak, udah mulai timbul ‘down’). Sukses tuk teman-temanku yg masih dalam pencariannya ‘mencari tempat menjemput rizki’ ya (tapi ingat rizki or rejeki bukan hanya uang, rejeki iman, bernafas, sehat, keluarga, teman, dan begitu banyak rejeki yg sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada kita  dan kita tinggal menjaganya ). Alhamdulillah