Inna Lillah, Alhamdulillah Hasil IELTSku sudah keluar, beberapa hari sebelumnya aku terus berdoa,? (tetapi bukan meminta nilainya dinaikkan alias bisa menerima apapun hasilnya…. karena seperti kata Ibu "Manusia hanya berusaha, Hak Tuhan-lah hasilnya". Tapi ternyata aku tak kuat juga melihat hasilnya’ tak sadar sedikit berteriak di depan administrasi IALF tak percaya memandang angka ‘5′ disamping kata writing dan speaking, benar-benar tak terpikir sebelumnya. Walau alhamdulillah Listening 7 dan reading 6.5 memark-up overall scoreku menjadi ‘6′. Namun, hasil ini agak sulit diterima oleh badan-badan beasiswa dan Perguruan Tinggi Pasca Sarjana Luar Negeri yang mematok angka ‘6,5′. Segera kutelpon suamiku mengabarkan hal ini, dia menyesalkan hal tsb bisa terjadi sedangkan ibu dengan bijak mengatakan untuk mencoba lagi.
Beberapa teman mengatakan pendapatnya ‘jangan kecewa ya, Tuhan menghargai usahamu, Sedang tidak beruntung coba lagi, andai ku bisa membiayai test ke2 mu’ . Terima kasih teman-teman :).
Aku memang menyadari dan sudah sejak awal tidak terlalu berharap mendapatkan beasiswa ini (selain london mahal biaya hidupnya, aku juga rasanya tidak memiliki sesuatu yg luar biasa dan unik untuk bisa terpilih). Tapi setidaknya dengan adanya nilai IELTS aku bisa mencoba beasiswa yg lain. Maafkan aku belahan jiwa, karna telah menyia-nyiakan pengorbananmu.
Yang paling menyentuhku adalah saat aku ikut kajian agama, murobbi ku membicarakan ttg "Saatnya memperbaiki diri", salah satu halnya adalah tidak diterimanya amalan akhirat yg ditujukan untuk dunia. Aku teringat saat baru lulus kuliah, bagaimana cara mendapatkan s2. kucoba melamar menjadi dosen, mengikuti organisasi sosial (baca: tujuan mendapat beasiswa). Aku tak ingat apakah mengajar anak-anak itu adalah salah satu misiku dalam mendapat beasiswa ini (Masya ALLAH
. Seakan hilang arah, kemana tujuan mendapat beasiswa? mau apa setelah itu? sedari kecil aku ingin seperti sepupuku yg mendapat beasiswa sampai s3 di luar negri. ALLAH telah mengingatkanku tuk berpikir apa tujuan dari semua ini. Teringat akan cita-cita saat kanak-kanak dulu, kuingin membuat semua anak-anak tertawa (cita-cita singkat namun penuh makna didalamnya).
Beberapa hari setelah pengumuman IELTS, pengumuman yg kutunggu datang jua :
Dear Aminah,
Unfortunately, we were not able to award you a scholarship. All emails were sent out by my colleague Marcus last week; I’m really sorry that this wasn’t received. Below is a copy of the email sent:
After great deliberation, I regret to inform you that the Scholarships Committee has not awarded you a scholarship for the September 2007 intake. The committee met over a number of days and each application was carefully reviewed. We had over 1300 applications for a limited number of scholarships. All decisions made by the Committee are final and not open to re-consideration. Please be assured that all applications are given due consideration. I am sorry that we have to disappoint you and wish you every success in your future.
I do want to stress that it was particularly competitive this year, and I hope that this news is not too disappointing.
Kind Regards,
Sheila
Ya ALLAH, maafkanlah dosa-dosa hamba. Laa ILLaha ILLaLLah, Inni kuntu minazzolimin (sesungguhnya hamba termasuk orang yg menzolimi diri).